Sabtu, 27 Januari 2018

[Coretan] Pemutaran Perdana Film Dilan 1990: Satu Studio Full, Tak Ada Kursi yang Tersisa

Poster Film Dilan 1990 (Sumber: bioskoptoday.com)

Kamis lalu (25/01/2018) merupakan pemutaran perdana film Dilan 1990 di seluruh bioskop Indonesia. Film yang diadaptasi dari novel laris karya Pidi Baiq dengan judul yang sama itu dari awal rencana akan difilmkan saja sudah mendapatkan perhatian besar, terutama dari fans garis keras pembaca novelnya. Bahkan, saat nama para pemainnya diumumkan pun banyak menuai pro-kontra dari para warganet.

Melihat antusiasme masyarakat terhadap film ini, sepulang kerja, saya pun secara sengaja mendatangi salah satu bioskop yang ada di kota Karawang--XXI Mall Karawang--untuk menyaksikan langsung pemutaran perdana film yang sangat ditunggu-tunggu itu. Dan lewat googling, akhirnya saya memutuskan untuk menonton di biskop terdekat dari rumah dengan jadwal tayang sekitar jam 3 sore.

Dan benar saja. Saat saya tiba di lokasi--tinggal sepuluh menit jelang pemutaran yang pukul 14:40 WIB, hanya tersisa satu kursi kosong. Itu pun ada di barisan terdepan (baris L) dekat dengan layar. Bagaimana rasanya menonton film bioskop dari kursi terdepan plus dekat layar monitor? Tentu saja kurang nyaman. Tapi saya enggan pula bila harus menunggu dua jam untuk jadwal pemutaran selanjutnya. Jadi yaaa... nikmati sajalah.

Tiket Nonton Film Dilan 1990 (Sumber: koleksi pribadi)

Dengan duduk manis dan dikelilingi oleh para ABG kota Karawang, saya pun menikmati pemutaran film Dilan 1990. Tertawa bersama penonton yang mayoritas ABG saat menyaksikan aksi norak dan dialog konyol yang diucapkan Dilan (Iqbaal Ramadhan) dalam merayu Milea (Vanesha Prescilla), juga ikutan baper melihat kemesraan antara Dilan dan Milea lewat layar lebar. Ah, saya benar-benar merasa bagaikan ABG lagi.

Meskipun belum pernah membaca novelnya, tapi penilaian pribadi saya terhadap akting Iqbaal Ramadhan cukup bagus. Dilan divisualisasikan sebagai anak SMA yang urakan, kurang disiplin, panglima tempur geng motor dan juga suka tawuran. Tapi di sisi lain, ditonjolkan pula sisi romantis Dilan yang tunduk kepada Milea saat dilarang ikut tawuran geng motor. Jadi, Dilan itu bukanlah sosok yang bad boy banget, seperti banyak warganet berkomentar. Ya, masih dalam batas kewajaran kenakalan ABG, menurut saya.

Hei, bagaimana dengan akting Vanesha atau biasa dipanggil Shasa sebagai Milea? Sejauh yang saya saksikan di layar lebar, okelah meskipun masih terlihat kaku. Ya, mungkin karena ini adalah debut pertamanya di film. Tapi seiring berjalannya waktu dan jam terbang, penulis yakin, Shasa bisa memoles aktingnya menjadi lebih baik lagi.

Dan beginilah suasana studio 1 bioskop XXI Mall Karawang saat pemutaran perdana film Dilan 1990. Benar-benar tak ada satupun kursi yang tersisa dalam studio tersebut.

Add Antusiasme Penonton Pada Pemutaran Perdana Film Dilan 1990 di XXI Mall Karawang, Kamis 25 Januari 2018 (Sumber: koleksi pribadi)



Senin, 28 Agustus 2017

[Kenang-kenangan di Majalah Muslimah] Aku Tak Pernah Minta Dilahirkan Kidal

Prolog:

Ini salah satu kenang-kenangan saat masih menjadi kontributor Majalah Muslimah. Termuat di Majalah Muslimah No. 50/September 2006, khususnya pada rubrik Kisah Sejati. Hehehe... Copas dari my blog : http://bungaosaka.multiply.com (sekarang blog ini sudah dihapus oleh yang punya domain)


Silakan dibaca, manteman semua! Semoga bermanfaat. Hikz, jadi pengen kerja di majalah lagi deh!

***


Kenapa harus minder jadi orang kidal? Toh, banyak orang kidal yang sukses. Dan masyarakat pun tak mempermasalahkan kekidalan mereka. Benarkah? Lantas kenapa perlakuan yang kuterima berbeda? Masih anehkah jadi orang kidal di Indonesia?

Menurut cerita ibuku, kandungan beliau saat mengandungku itu baik-baik saja. Pun ketika akan melahirkan, posisiku di rahim ibu dalam keadaan normal, sehingga tak ada alasan untuk tidak melahirkan secara normal. Tapi, suatu keanehan terjadi. Ketika dokter mencoba untuk mengeluarkan kepalaku, tiba-tiba saja tangan kananku terlilit di kepalaku. Hal itu tentu saja membuat panik semua orang yang ada di ruangan itu, terutama ibuku. Akhirnya dengan sedikit paksaan, dokter berhasil mengeluarkan kepalaku dan aku pun bisa lahir ke dunia dengan selamat. Tapi, tidak! Ternyata aku tak lahir normal seperti kakak-kakakku yang lain. Akibat pengeluaran secara paksa itu, syaraf-syaraf yang ada di tangan kananku menjadi lemah, sehingga tanganku itu pun menjadi kecil dan bengkok.

Melihat kondisiku itu, dokter tak lantas tinggal diam. Segera, aku dibawa ke ruang inkubator untuk memberikan pertolongan pertama kepada tanganku. Dalam ruangan itu, tanganku langsung divakum, maksudnya agar syaraf-syaraf yang ada di tanganku itu kembali kuat. Tapi setelah beberapa lama divakum, sepertinya tak kunjung ada kemajuan yang berarti. Akhirnya atas rekomendasi dari pihak rumah sakit, aku dibawa orang tuaku ke terapis syaraf. Dan sejak saat itu, mulailah aku menjalani hari-hariku di ruang terapi syaraf.

Selama lebih dari 8 tahun aku menjalani perawatan untuk tangan kananku. Meski bukan rawat inap, tapi setidaknya dalam sehari itu aku mesti mengunjungi tempat praktek sang terapis diantar oleh kedua orang tuaku. Aku amat bersyukur memiliki orang tua yang begitu perhatian padaku. Tak pernah ada kata bosan dan keluhan yang tampak di wajah mereka, meski harus tiap hari  menemaniku terapi.

Hari-hariku banyak kuhabiskan di ruangan terapi, berteman dengan alat-alat terapi, bau ruangan yang khas, nuansa serba putih yang ada dalam ruangan dan tentu saja berteman baik dengan sang terapis. Ketika aku mulai sekolah, kegiatan terapiku sedikit berkurang. Aktifitas sekolah ternyata lebih menyita perhatianku. Aku juga mulai malas mengikuti terapi. Bukan karena aku tak butuh, tapi semata-mata karena bosan.

Ya, siapa yang tak bosan selama lebih dari 8 tahun hanya berurusan dengan alat-alat terapi dan ruang praktek yang itu-itu saja. Meski tanganku itu belum dapat dikatakan sembuh, tapi setidaknya tangan kananku sudah bisa digerakkan sedikit-sedikit. Dan aku pun patut bersyukur kepada-Nya. Keinginanku yang kuat untuk berhenti terapi, mau tak mau membuat orang tuaku meluluskannya dan sejak kelas 3 SD aku benar-benar berhenti mengikuti terapi untuk tanganku.


Dimarahi Sopir Angkot

Lepas dari rutinitas terapi, mulailah aku menjalani hari-hari layaknya anak normal pada umumnya. Untungnya orang tuaku memasukkanku ke sekolah umum dan bukan ke sekolah khusus anak-anak cacat. Karena bagi mereka, aku ini tak ada bedanya dengan anak-anak yang lain. Ya, aku pun menganggap diriku demikian, makanya aku bisa bebas bergaul dengan teman-temanku yang normal. Bagiku, masa itu adalah masa-masa terindah dalam hidupku.

Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai menyadari kekuranganku. Ternyata aku ini tak sama dengan mereka. Tangan kananku kecil, lemah, dan bengkok. Setiap kali aku melakukan sesuatu dengan tangan kiri, orang-orang akan menatapku dengan tatapan yang ‘aneh’. Masih lekat dalam ingatanku bagaimana teman-teman mengajiku dulu sering mengejekku dengan sebutan cengkok (bengkok, red). Dan aku diam saja diejek begitu, karena kala itu aku belum paham benar maksud dari perkataan itu. Tapi kini aku paham dan aku sering sedih kalau ada orang yang marah dan menyebutku tak sopan hanya karena kelemahanku itu.

Berbagai peristiwa menyakitkan harus kualami berkenaan dengan tangan kananku. Mulai dari gagalnya aku untuk masuk dalam tim kesenian sekolah yang mewakili sekolahku di ajang Pentas Seni antar Sekolah Dasar se-kota Padang. Kala itu aku mendaftarkan diri untuk ikut dalam perlombaan tari daerah. Awalnya, aku dinyatakan lolos seleksi oleh guruku. Tetapi, tiba-tiba saja seorang temanku menyeletuk perihal kekidalanku. Dan akhirnya, dengan berat hati aku pun harus mundur dari ajang perlombaan itu.

Upacara bendara yang diadakan setiap Senin pagi di sekolahku, ternyata tak luput dari pandangan aneh orang-orang di sekelilingku. Setiap dilakukan penghormatan kepada bendera, aku harus selalu bersusah payah menopang tangan kananku agar dapat memberikan penghormatan dengan baik. Aku bukannya tak menyadari tatapan aneh dan sinis dari teman-teman dan guruku, tapi ya... sudahlah. Mungkin inilah yang terbaik yang diberikan Allah kepadaku.

Ketika SMP, aku pernah mengalami peristiwa yang hingga kini tetap membekas dalam hatiku. Kala itu aku yang biasa menggunakan angkutan umum ke sekolah mendapatkan sebuah ‘teguran’ yang sangat menyakitkan dari seorang supir angkutan kota (angkot) yang biasa kunaiki. Ketika akan membayar ongkos angkot, tiba-tiba saja sang supir itu membentakku, “Pakai tangan kanan! Ndak sopan bana (benar, red) pakai tangan kidal, macam ndak punya tangan saja.”

Deg! Aku terkejut mendengarnya. Penumpang lain yang berada dalam angkot itu pun secara serentak menatapku. Mereka menelitiku secara seksama, dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Sungguh, aku malu sekali. Ingin sekali rasanya menangis dan menghilang saat itu juga. Tapi sekuat tenaga kutahan. Sambil meminta maaf, kucoba untuk menjelaskan perihal tangan kananku. Si supir itu akhirnya diam, mungkin ia merasa bersalah telah membentakku. Entahlah, aku tak tahu pasti. Yang kutahu hanyalah, sejak saat itu, aku benar-benar mengalami krisis kepercayaan diri, terutama ketika menggunakan angkutan umum.


Ibu Terserang Stroke

Kelas 2 SMA, ayahku dimutasikan ke Semarang. Aku dan keluargaku mau tak mau harus meninggalkan Padang, kota kelahiran. Dan di sana peristiwa yang sama terulang lagi. Teman-teman sekolahku sering menatapku aneh manakala aku menulis dengan tangan kidal dan pertanyaan “Kenapa menulis dengan tangan kiri?” selalu terlontar dengan mulut mereka. Setiap kali mendengar pertanyaan itu ingin rasanya aku menangis, tapi selalu kutahan dan hanya mampu kulakukan di dalam hati.

Beruntung, aku memiliki sahabat yang selalu setia mendampingiku. Dialah yang senantiasa memberi dorogan dan dukungan setiap kali orang-orang menatapku sinis dan aneh. Dia tak pernah bosan membangkitkan semangatku, mengatakan padaku kalau aku ini istimewa. Aku memang berbeda dari mereka, tapi aku tetaplah manusia yang istimewa dan di sanalah letak kelebihanku, begitu katanya. Aku pun tersenyum mendengarnya. Dan karena aku masih trauma dengan angkot, setiap pagi ayah selalu bersedia mengantarku ke sekolah dan ketika pulang sekolah, aku selalu bersama sahabatku. Masa-masa SMA itu kulalui dengan penuh tekanan, tapi aku tetap semangat.

Lepas SMA, aku mengambil kuliah jurusan Psikologi. Ada alasan tertentu kenapa aku memilih jurusan itu. Sebenarnya ini adalah saran dari Om-ku. Beliau yang mengetahui krisis kepercayaan diri yang selalu kuhadapi, mengusulkan agar aku memilih jurusan Psikologi saja. “Dengan belajar Psikologi, kamu akan tahu gimana sebenarnya karakter-karakter manusia itu. Siapa tahu dengan begitu, kamu bisa lebih pede dan nggak terlalu ambil pusing dengan anggapan orang mengenai tanganmu.” Dan ternyata saran Om-ku itu ada benarnya juga.

Semenjak kuliah, aku berusaha untuk selalu tampil percaya diri. Meski masih sering kutemui tatapan-tatapan aneh dan celetukan-celetukan pedas di sekelilingku, tapi aku sudah tak peduli lagi. Yang penting aku sama sekali tak menyakiti dan merugikan mereka. Aku terus melangkah dan menapaki masa depanku dengan senyuman sampai suatu peristiwa membuatku tersentak lagi.

Ibuku terserang komplikasi diabetes dan harus dirawat di rumah sakit selama lebih dari 4 bulan. Beliau pun harus merelakan 3 jari kakinya untuk diamputasi. Kami sekeluarga tentu saja syok, tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika melihat ibu harus selalu menggunakan kursi roda karena syaraf beliau pun ternyata terkena stroke. Ya Allah, cobaan apalagi yang Kau timpakan kepadaku? Jerit batinku pilu.


Mencari Kerja Sambilan

Setelah ibu stroke, perekonomian keluargaku menurun drastis. Ya, karena perhatian kami semua hanya tertuju ke ibu dan kami hanya ingin melihat ibu sembuh seperti sedia kala. Berbagai upaya pun dikerahkan ayah demi kesembuhan ibu, sehingga sebagai seorang anak aku tak mungkin lagi menuntut yang macam-macam kepada orang tuaku. Akhirnya aku mencari akal bagaimana cara untuk meringankan beban orang tua, yaitu dengan mencari pekerjaan paruh waktu.

Berkali-kali aku mencoba melamar ke toko-toko maupun restoran-restoran yang memperkerjakan pegawai paruh waktu. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang mau menerimaku, karena melihat tanganku yang kidal ini. Aku sempat down dan putus asa juga, tapi sahabatku selalu memberiku semangat untuk tak mudah menyerah dan terus mencoba dan mencoba, hingga akhirnya kesempatan itu pun hadir di hadapanku.

Saat itu aku sedang joging ke kawasan Simpang Lima dan di sanalah aku berkenalan dengan seorang penjual jilbab yang menawariku untuk bekerja dengannya setiap Ahad pagi. Pada awal bekerja, semuanya berjalan dengan baik. Tak ada seorang pun yang mempersoalkan tentang kekidalanku. Tapi, ternyata itu tak berlangsung lama. Perlahan, satu persatu pembeli mulai mengeluhkan pelayanan yang kuberikan. Mereka selalu bertanya kenapa aku tidak pernah menggunakan tangan kananku dalam melayani mereka, padahal aku memiliki kedua tangan secara lengkap. Ya, itu semua memang benar. Tapi tahukah mereka, kalau tangan kananku ini lemah dan tidak bisa digunakan? Tidak, mereka tak pernah tahu hal itu.

Melihat banyaknya keluhan yang datang dari para pembeli, Mbak Indah tak lantas tinggal diam. Segera, dia menanyatakan perihal yang sebenarnya kepadaku. Kuceritakan saja semuanya tanpa ada satu pun yang harus kututupi. Kejujuranku membuat Mbak Indah jatuh iba kepadaku dan hingga kini dia masih tetap memperkerjakanku dan tidak lagi mempersoalkan hal itu lagi.

Ya Allah, aku tak tahu sampai kapan beban ini akan terus membelengguku. Aku mencoba menerima semua ini sebagai suatu ketetapan-Mu kepadaku dan tak terlalu banyak mengeluh.

Tapi bagaimana dengan orang-orang yang ada di sekitarku? Maukah mereka mengerti? Bagaimana pula kelak nasibku setelah tamat kuliah? Bisakah aku merasakan indahnya dunia kerja yang sering kali hadir dalam mimpiku? Bagaimana dengan menikah? Adakah laki-laki tulus yang mau dan bersedia menerimaku dengan segala kekurangan yang kumiliki ini? Karena selama ini, teman-teman cowokku pun ternyata masih sering memandangku sebelah mata.

Ya, itu semua rahasia Allah dan aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Bagiku, tugas kita sebagai hamba-Nya hanyalah berusaha dan berdoa serta memasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Karena kuyakin, Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya, termasuk juga diriku. (Alin)

(Seperti yang dituturkan Ragil kepada Alin)

***


NB: Ragil itu bukan nama sebenarnya.

Ada pelajaran berharga yang aku dapatkan dari kisah ini. Aku jadi ingat kata-kata yang pernah diucapkan oleh my boss (baca: Pemred) saat masih magang di sebuah koran. Padahal suer, dulu aku nggak terlalu ambil pusing dengan kata-kata si bos itu. Tapi kini...


"Sebenarnya yang memberi warna pada negara ini bukanlah presiden, menteri ataupun politikus. Tapi, kita (wartawan, red). Dengan tulisan yang kita buat, akan banyak mendatangkan opini publik."  ^_^

Sabtu, 29 April 2017

[Review] Film Kartini: Perjuangan Cantik Kartini yang Tomboi

Poster Film Kartini 2017 (Koleksi Legacy Pictures)

Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga nonton film ini Selasa pekan lalu (25/04/17). Niat awalnya sih pengen nonton saat long weekend kemarin. Tapi setelah dipikir ulang, dimana mal pasti penuh ramai oleh lautan manusia di saat libur akhir pekan--apalagi ini libur panjang, akhirnya waktu nonton pun diundur pas weekday. Heuheu, sekalian nomat alias nonton hemat gitu deh ceritanya. ;)

Well, alasan pengen nonton film ini tak lain dan tak bukan lebih didasari oleh para pemainnya seperti Dian Sastrowardoyo, Acha Septriasa, Ayushita, Christine Hakim, Reza Rahardian, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Adinia Wirasti, dll. Selain itu pas lihat trailer-nya di IG, entah kenapa saya langsung tertarik. Apalagi ditambah dengan nama besar Hanung Bramantyo sebagai sang sutradara yang pernah sukses menyutradarai film biopic "Soekarno", oke, let's go to the movie.

Dan ternyata, ekspektasi saya terhadap film ini tidaklah salah. Karena saya berhasil dibawa masuk pada era tahun 1800-an di kota kelahiran RA Kartini, Jepara, Jawa Tengah. Setting tempat kediaman Bupati Jepara, RM Adipati Ario Sosroningrat (ayah kandung RA Kartini, diperankan oleh Deddy Sutomo), wardrobe, kostum para pemain, sampai kepada dialog Jawa dan Belanda yang kental, membuat saya mengacungi jempol kepada film produksi Legacy Pictures dan diproduseri oleh Robert Ronny ini.


Mendobrak Tradisi Jawa Kuno

Film ini bercerita tentang kisah hidup tokoh emansipasi perempuan, RA Kartini (Dian Sastro) dalam rentang waktu 1883-1903 di Jepara, mulai dari kanak-kanak hingga dewasa. Dimana pada saat Kartini kecil, ia mengadakan perlawanan karena tak diizinkan tinggal bersama ibu kandungnya sendiri, Ngasirah (Nova Eliza sebagai Ngasirah muda), yang notabene bukan berasal dari golongan ningrat, walaupun bapaknya sendiri itu merupakan seorang bupati berdarah bangsawan. Oleh karena itu, Kartini diharuskan memanggil Ngasirah dengan sebutan Yu, bukan Ibu. Dan Ngasirah pun harus tinggal di rumah belakang sebagai pembantu, terpisah dari anak-anak dan suaminya sendiri.

Kartini kecil sangat tak berdaya pada tradisi yang berlaku saat itu, begitupun dengan sang ayah yang harus menikahi gadis ningrat agar bisa menjadi seorang bupati. Dan pada saat mendapatkan menstruasi pertamanya, maka mulailah Kartini menjalani kehidupan pingitan untuk menjadi Raden Ajeng dan siap dinikahkan oleh seorang bangsawan ningrat.

Kartini sangat tersiksa dengan kehidupan seperti itu, karena sejatinya ia ingin hidup bebas serta mengecam pendidikan tinggi seperti yang dialami kakak laki-lakinya, RM Sosro Kartono (Reza Rahardian) yang mendapatkan beasiswa belajar ke negeri Belanda.

Kartono yang iba pada penderitaan Kartini akhirnya memberikan sebuah kunci kepada adiknya itu. "Ini kunci yang akan menghubungkan kowe dengan dunia luar dari kamar pingitan."

Semangat Kartini kembali berkobar setelah mendapatkan dukungan dari Kartono, kakaknya

Senyum Kartini pun merekah saat menerima kunci tersebut, apalagi mengetahui kalau itu adalah kunci lemari Kartono yang berisi buku-buku berbahasa Belanda yang membuat wawasan Kartini kian berkembang. Apalagi setelah kedatangan keluarga Ovink yang mengundang Kartini untuk bertandang ke rumahnya dan memfasilitasi Kartini untuk menerbitkan tulisan-tulisannya yang akan dibaca hingga ke negeri Belanda.


Sisi Lain Kartini dan Trio Semanggi

Bila selama ini kita mendapat gambaran--seperti yang ada di buku sejarah--sosok Kartini sebagai sosok perempuan yang anggun dan pendiam, maka film ini berhasil mengubah anggapan tersebut. Di sini, Kartini digambarkan sebagai perempuan tomboi dan pemberani. Bersama kedua adiknya, Kardinah (Ayushita) dan Roekmini (Acha Septriasa), mereka hobi sekali memanjat pagar dan juga bermain di pantai, meskipun kebaya dan kain tetap melekat di tubuh.

Trio Semanggi yang hobi sekali memanjat pagar

Kartini, Kardinah dan Roekmini itu diibaratkan sebagai Trio Semanggi yang sangat kokoh memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, terutama di bidang pendidikan, dan sangat menentang yang namanya poligami.

"Pokoke aku bersumpah, aku ora sudi menikah, apalagi dengan suami orang," ujar Kardinah keukeh, di hadapan Kartini dan Roekmini.

Tapi malang, takdir berkata lain. Saat tiba waktunya Kardinah untuk menikah, ia benar-benar tak bisa menentang semua itu--meskipun telah memelas kepada RA Moeriam (ibu tiri Kartini, diperankan oleh Djenar Maesa Ayu) dan hanya bisa menangisi nasib. Dan pasca pernikahan Kardinah, kekuatan Trio Semanggi pun menjadi pincang.


Perjuangan Cantik Kartini

Akhir-akhir ini setiap kali bulan April--terutama tanggal dua puluh satu yang bertepatan dengan hari Kartini, banyak sekali opini bernada miring yang mengatakan bahwa kenapa hanya Kartini yang dijadikan pahlawan nasional. Padahal masih banyak tokoh perempuan Indonesia lainnya yang lebih berjasa dalam memperjuangkan hak kaumnya, bahkan tak jarang mereka berjuang dengan mengangkat senjata.

Perjuangan Cantik Kartini Melalui Pemikirannya

Bila saya diizinkan untuk ikut beropini juga, maka saya akan mengatakan bahwa perjuangan Kartini itu sangatlah cantik. Dalam film ini diperlihatkan bahwa Kartini memang tidak angkat senjata dalam berjuang seperti yang lainnya, tapi ia berjuang melalui pemikirannya. Ia pintar dalam memanfaatkan fasilitas yang dimilikinya--kekuatan politik ayahnya, kondisi perekonomian keluarganya, pun pintar memanfaatkan koneksi dan korespondensi dengan teman-teman Belanda-nya. Dengan pemikiran yang jauh berkembang dari zamannya itulah yang akhirnya disadari oleh J.H. Abendanon--teman Belanda-nya untuk membukukan surat-surat Kartini dengan judul asli Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya). Kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini tidak serta merta menelan semua adat istiadat dan tradisi keluarganya yang kaku. Apalagi jika itu bertentangan dengan nuraninya yang sangat menginginkan kesetaraan gender, kesamaan memperoleh pendidikan, mencerdaskan perempuan tanpa melihat kasta sosialnya. Kartini sama sekali tak menampik kodrat perempuan yang identik dengan kasur, dapur dan sumur. Tapi ia juga tidak setuju bila perempuan itu hanya bisa pasrah menerima nasibnya tanpa ada keinginan untuk mengubahnya. Itulah yang saya sebut sebagai perjuangan yang cantik.

Jujur, saya sangat terkesan dengan film ini karena alur ceritanya menarik, ditambah dengan sinematografi yang apik--visualisasi gambar real saat Kartini membaca buku dan menulis surat ke Stella, sahabatnya, menurut saya itu keren sekali. Jadi kita bisa melihat Kartini yang berdialog langsung dengan si penulis buku maupun berada di negara tempat Stella tinggal, bukan sekadar kata-kata biasa.

Sebagai penutup, saya memberi nilai untuk film ini 8 dari 10. Dan saya sangat merekomendasikan untuk menonton film ini untuk melihat lebih dekat kehidupan dan perjuangan cantik dari RA Kartini.

***

Senin, 24 April 2017

[Cerbung] The Office Boy 7: Sebuah Pengakuan



Sebelumnya



***

TUJUH

Sebuah Pengakuan

Setelah urusan dengan Lidya beres, aku pun akhirnya memilih kembali ke ruang kerjaku alias ke pantry, karena ada hal penting yang ingin segera kubicarakan dengan Abdul. Tapi ternyata untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling pantry, most wanted person itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Fuih.

Minggu, 02 April 2017

[Coretan] Fenomena Novel Wattpad yang Dilirik Penerbit Mayor dan Production House

Dear Nathan Versi Film dan Novel Cetak (jadwal21.id dan buku kita.com)

Awal pekan lalu (27/3/17) sepulang dari kantor, saya sengaja menyambangi bioskop Karawang Theatre (KT) sekadar untuk melepaskan penat dari rutinitas harian. Dan berhubung saya memang doyan nonton film juga, maka akhirnya saya memilih KT sebagai 'tempat pelarian'.

Karawang Theatre (twitter.com)

Ada dua film Indonesia alternatif yang ingin saya tonton saat itu di sana; Mooncake Story dan Baracas. Dan alasan kenapa saya memilih KT itu... just simple. Kapan lagi bisa nonton film Indonesia terbaru dengan harga tiket hanya Rp.15.000,-? Ya, hanya itu. Tanpa ada maksud mendiskreditkan bioskop-bioskop raksasa yang mulai bermunculan di kota Karawang.

Berhubung KT hanya memiliki dua studio layar lebar (theatre studio) maka hari itu film yang sedang tayang adalah Dear Nathan (theatre 1) dan Baracas (theatre 2). Okelah, not bad too. Segera saja saya melangkah ke theare 2 untuk mengantre tiket Baracas. Eh tapi, tunggu dulu! Pas iseng melirik ke theatre 1, oh my God... banyak juga abegeh yang mengantre di sono. Hm, jadi kepo euy. Memang apa sih keistimewaan film Dear Nathan itu?

Sabtu, 25 Maret 2017

[Kuliner] Sensasi Makan Ramen Berserta Mangkoknya di Hana Ramen Karawang

Selamat Datang di Hana Ramen Karawang (dok. pribadi)

Ramen sebagai salah satu makanan khas negeri Sakura itu sepertinya sudah tak asing lagi di telinga para pencinta dan penikmat mie. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Kenapa? Karena kini telah banyak berdiri warung dan kafe yang menyajikan ramen sebagai menu andalannya. Bahkan tak sedikit juga yang sengaja menjadikannya sebagai icon di warung atau kafe tersebut. Salah satunya adalah warung Hana Ramen yang terletak di Jalan Bogor, Sebelah Kanan Kampus BSI, Karangpawitan, Karawang.

Jumat, 17 Maret 2017

[Perjalanan] Wana Wisata Puncak Sempur, Destinasi Wisata Bagi Backpacker dan Acara Gathering

Sumber Gambar: travel.detik.com

Selama ini memang Karawang lebih dikenal sebagai daerah penghasil beras maupun dengan "Goyang Karawang" nya. Tapi siapa sangka kalau kabupaten yang terletak di wilayah Pantura Jawa ini juga memiliki wisata alam pegunungan yang masih asri dan alami tanpa sentuhan langsung tangan manusia.

Kalau Bogor memiliki Puncak Pass sebagai alternatif wisata di akhir pekan (weekend), maka Karawang pun ternyata juga memiliki wisata alam yang tak kalah cantiknya dengan Puncak di Bogor, yaitu Puncak Sempur. Wana wisata ini terletak di daerah Loji, tepatnya di Desa Cinta Laksana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang. Dengan jarak tempuh sekitar satu jam dari pusat kota Karawang, lewat jalur Badami, Teluk Jambe, menuju ke Pasar Loji. 

[Coretan] Pemutaran Perdana Film Dilan 1990: Satu Studio Full, Tak Ada Kursi yang Tersisa

Poster Film Dilan 1990 (Sumber: bioskoptoday.com) Kamis lalu (25/01/2018) merupakan pemutaran perdana film Dilan 1990 di seluruh bios...