Prolog:
Ini salah satu kenang-kenangan saat masih menjadi kontributor Majalah Muslimah. Termuat di Majalah Muslimah No. 50/September 2006, khususnya pada rubrik Kisah Sejati. Hehehe... Copas dari my blog : http://bungaosaka.multiply.com (sekarang blog ini sudah dihapus oleh yang punya domain)
Silakan dibaca, manteman semua! Semoga bermanfaat. Hikz, jadi pengen kerja di majalah lagi deh!
***
Kenapa harus minder jadi orang kidal? Toh, banyak orang kidal yang sukses. Dan masyarakat pun tak mempermasalahkan kekidalan mereka. Benarkah? Lantas kenapa perlakuan yang kuterima berbeda? Masih anehkah jadi orang kidal di Indonesia?
Menurut cerita ibuku, kandungan beliau saat mengandungku itu baik-baik saja. Pun ketika akan melahirkan, posisiku di rahim ibu dalam keadaan normal, sehingga tak ada alasan untuk tidak melahirkan secara normal. Tapi, suatu keanehan terjadi. Ketika dokter mencoba untuk mengeluarkan kepalaku, tiba-tiba saja tangan kananku terlilit di kepalaku. Hal itu tentu saja membuat panik semua orang yang ada di ruangan itu, terutama ibuku. Akhirnya dengan sedikit paksaan, dokter berhasil mengeluarkan kepalaku dan aku pun bisa lahir ke dunia dengan selamat. Tapi, tidak! Ternyata aku tak lahir normal seperti kakak-kakakku yang lain. Akibat pengeluaran secara paksa itu, syaraf-syaraf yang ada di tangan kananku menjadi lemah, sehingga tanganku itu pun menjadi kecil dan bengkok.
Melihat kondisiku itu, dokter tak lantas tinggal diam. Segera, aku dibawa ke ruang inkubator untuk memberikan pertolongan pertama kepada tanganku. Dalam ruangan itu, tanganku langsung divakum, maksudnya agar syaraf-syaraf yang ada di tanganku itu kembali kuat. Tapi setelah beberapa lama divakum, sepertinya tak kunjung ada kemajuan yang berarti. Akhirnya atas rekomendasi dari pihak rumah sakit, aku dibawa orang tuaku ke terapis syaraf. Dan sejak saat itu, mulailah aku menjalani hari-hariku di ruang terapi syaraf.
Selama lebih dari 8 tahun aku menjalani perawatan untuk tangan kananku. Meski bukan rawat inap, tapi setidaknya dalam sehari itu aku mesti mengunjungi tempat praktek sang terapis diantar oleh kedua orang tuaku. Aku amat bersyukur memiliki orang tua yang begitu perhatian padaku. Tak pernah ada kata bosan dan keluhan yang tampak di wajah mereka, meski harus tiap hari menemaniku terapi.
Hari-hariku banyak kuhabiskan di ruangan terapi, berteman dengan alat-alat terapi, bau ruangan yang khas, nuansa serba putih yang ada dalam ruangan dan tentu saja berteman baik dengan sang terapis. Ketika aku mulai sekolah, kegiatan terapiku sedikit berkurang. Aktifitas sekolah ternyata lebih menyita perhatianku. Aku juga mulai malas mengikuti terapi. Bukan karena aku tak butuh, tapi semata-mata karena bosan.
Ya, siapa yang tak bosan selama lebih dari 8 tahun hanya berurusan dengan alat-alat terapi dan ruang praktek yang itu-itu saja. Meski tanganku itu belum dapat dikatakan sembuh, tapi setidaknya tangan kananku sudah bisa digerakkan sedikit-sedikit. Dan aku pun patut bersyukur kepada-Nya. Keinginanku yang kuat untuk berhenti terapi, mau tak mau membuat orang tuaku meluluskannya dan sejak kelas 3 SD aku benar-benar berhenti mengikuti terapi untuk tanganku.
Dimarahi Sopir Angkot
Lepas dari rutinitas terapi, mulailah aku menjalani hari-hari layaknya anak normal pada umumnya. Untungnya orang tuaku memasukkanku ke sekolah umum dan bukan ke sekolah khusus anak-anak cacat. Karena bagi mereka, aku ini tak ada bedanya dengan anak-anak yang lain. Ya, aku pun menganggap diriku demikian, makanya aku bisa bebas bergaul dengan teman-temanku yang normal. Bagiku, masa itu adalah masa-masa terindah dalam hidupku.
Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai menyadari kekuranganku. Ternyata aku ini tak sama dengan mereka. Tangan kananku kecil, lemah, dan bengkok. Setiap kali aku melakukan sesuatu dengan tangan kiri, orang-orang akan menatapku dengan tatapan yang ‘aneh’. Masih lekat dalam ingatanku bagaimana teman-teman mengajiku dulu sering mengejekku dengan sebutan cengkok (bengkok, red). Dan aku diam saja diejek begitu, karena kala itu aku belum paham benar maksud dari perkataan itu. Tapi kini aku paham dan aku sering sedih kalau ada orang yang marah dan menyebutku tak sopan hanya karena kelemahanku itu.
Berbagai peristiwa menyakitkan harus kualami berkenaan dengan tangan kananku. Mulai dari gagalnya aku untuk masuk dalam tim kesenian sekolah yang mewakili sekolahku di ajang Pentas Seni antar Sekolah Dasar se-kota Padang. Kala itu aku mendaftarkan diri untuk ikut dalam perlombaan tari daerah. Awalnya, aku dinyatakan lolos seleksi oleh guruku. Tetapi, tiba-tiba saja seorang temanku menyeletuk perihal kekidalanku. Dan akhirnya, dengan berat hati aku pun harus mundur dari ajang perlombaan itu.
Upacara bendara yang diadakan setiap Senin pagi di sekolahku, ternyata tak luput dari pandangan aneh orang-orang di sekelilingku. Setiap dilakukan penghormatan kepada bendera, aku harus selalu bersusah payah menopang tangan kananku agar dapat memberikan penghormatan dengan baik. Aku bukannya tak menyadari tatapan aneh dan sinis dari teman-teman dan guruku, tapi ya... sudahlah. Mungkin inilah yang terbaik yang diberikan Allah kepadaku.
Ketika SMP, aku pernah mengalami peristiwa yang hingga kini tetap membekas dalam hatiku. Kala itu aku yang biasa menggunakan angkutan umum ke sekolah mendapatkan sebuah ‘teguran’ yang sangat menyakitkan dari seorang supir angkutan kota (angkot) yang biasa kunaiki. Ketika akan membayar ongkos angkot, tiba-tiba saja sang supir itu membentakku, “Pakai tangan kanan! Ndak sopan bana (benar, red) pakai tangan kidal, macam ndak punya tangan saja.”
Deg! Aku terkejut mendengarnya. Penumpang lain yang berada dalam angkot itu pun secara serentak menatapku. Mereka menelitiku secara seksama, dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Sungguh, aku malu sekali. Ingin sekali rasanya menangis dan menghilang saat itu juga. Tapi sekuat tenaga kutahan. Sambil meminta maaf, kucoba untuk menjelaskan perihal tangan kananku. Si supir itu akhirnya diam, mungkin ia merasa bersalah telah membentakku. Entahlah, aku tak tahu pasti. Yang kutahu hanyalah, sejak saat itu, aku benar-benar mengalami krisis kepercayaan diri, terutama ketika menggunakan angkutan umum.
Ibu Terserang Stroke
Kelas 2 SMA, ayahku dimutasikan ke Semarang. Aku dan keluargaku mau tak mau harus meninggalkan Padang, kota kelahiran. Dan di sana peristiwa yang sama terulang lagi. Teman-teman sekolahku sering menatapku aneh manakala aku menulis dengan tangan kidal dan pertanyaan “Kenapa menulis dengan tangan kiri?” selalu terlontar dengan mulut mereka. Setiap kali mendengar pertanyaan itu ingin rasanya aku menangis, tapi selalu kutahan dan hanya mampu kulakukan di dalam hati.
Beruntung, aku memiliki sahabat yang selalu setia mendampingiku. Dialah yang senantiasa memberi dorogan dan dukungan setiap kali orang-orang menatapku sinis dan aneh. Dia tak pernah bosan membangkitkan semangatku, mengatakan padaku kalau aku ini istimewa. Aku memang berbeda dari mereka, tapi aku tetaplah manusia yang istimewa dan di sanalah letak kelebihanku, begitu katanya. Aku pun tersenyum mendengarnya. Dan karena aku masih trauma dengan angkot, setiap pagi ayah selalu bersedia mengantarku ke sekolah dan ketika pulang sekolah, aku selalu bersama sahabatku. Masa-masa SMA itu kulalui dengan penuh tekanan, tapi aku tetap semangat.
Lepas SMA, aku mengambil kuliah jurusan Psikologi. Ada alasan tertentu kenapa aku memilih jurusan itu. Sebenarnya ini adalah saran dari Om-ku. Beliau yang mengetahui krisis kepercayaan diri yang selalu kuhadapi, mengusulkan agar aku memilih jurusan Psikologi saja. “Dengan belajar Psikologi, kamu akan tahu gimana sebenarnya karakter-karakter manusia itu. Siapa tahu dengan begitu, kamu bisa lebih pede dan nggak terlalu ambil pusing dengan anggapan orang mengenai tanganmu.” Dan ternyata saran Om-ku itu ada benarnya juga.
Semenjak kuliah, aku berusaha untuk selalu tampil percaya diri. Meski masih sering kutemui tatapan-tatapan aneh dan celetukan-celetukan pedas di sekelilingku, tapi aku sudah tak peduli lagi. Yang penting aku sama sekali tak menyakiti dan merugikan mereka. Aku terus melangkah dan menapaki masa depanku dengan senyuman sampai suatu peristiwa membuatku tersentak lagi.
Ibuku terserang komplikasi diabetes dan harus dirawat di rumah sakit selama lebih dari 4 bulan. Beliau pun harus merelakan 3 jari kakinya untuk diamputasi. Kami sekeluarga tentu saja syok, tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika melihat ibu harus selalu menggunakan kursi roda karena syaraf beliau pun ternyata terkena stroke. Ya Allah, cobaan apalagi yang Kau timpakan kepadaku? Jerit batinku pilu.
Mencari Kerja Sambilan
Setelah ibu stroke, perekonomian keluargaku menurun drastis. Ya, karena perhatian kami semua hanya tertuju ke ibu dan kami hanya ingin melihat ibu sembuh seperti sedia kala. Berbagai upaya pun dikerahkan ayah demi kesembuhan ibu, sehingga sebagai seorang anak aku tak mungkin lagi menuntut yang macam-macam kepada orang tuaku. Akhirnya aku mencari akal bagaimana cara untuk meringankan beban orang tua, yaitu dengan mencari pekerjaan paruh waktu.
Berkali-kali aku mencoba melamar ke toko-toko maupun restoran-restoran yang memperkerjakan pegawai paruh waktu. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang mau menerimaku, karena melihat tanganku yang kidal ini. Aku sempat down dan putus asa juga, tapi sahabatku selalu memberiku semangat untuk tak mudah menyerah dan terus mencoba dan mencoba, hingga akhirnya kesempatan itu pun hadir di hadapanku.
Saat itu aku sedang joging ke kawasan Simpang Lima dan di sanalah aku berkenalan dengan seorang penjual jilbab yang menawariku untuk bekerja dengannya setiap Ahad pagi. Pada awal bekerja, semuanya berjalan dengan baik. Tak ada seorang pun yang mempersoalkan tentang kekidalanku. Tapi, ternyata itu tak berlangsung lama. Perlahan, satu persatu pembeli mulai mengeluhkan pelayanan yang kuberikan. Mereka selalu bertanya kenapa aku tidak pernah menggunakan tangan kananku dalam melayani mereka, padahal aku memiliki kedua tangan secara lengkap. Ya, itu semua memang benar. Tapi tahukah mereka, kalau tangan kananku ini lemah dan tidak bisa digunakan? Tidak, mereka tak pernah tahu hal itu.
Melihat banyaknya keluhan yang datang dari para pembeli, Mbak Indah tak lantas tinggal diam. Segera, dia menanyatakan perihal yang sebenarnya kepadaku. Kuceritakan saja semuanya tanpa ada satu pun yang harus kututupi. Kejujuranku membuat Mbak Indah jatuh iba kepadaku dan hingga kini dia masih tetap memperkerjakanku dan tidak lagi mempersoalkan hal itu lagi.
Ya Allah, aku tak tahu sampai kapan beban ini akan terus membelengguku. Aku mencoba menerima semua ini sebagai suatu ketetapan-Mu kepadaku dan tak terlalu banyak mengeluh.
Tapi bagaimana dengan orang-orang yang ada di sekitarku? Maukah mereka mengerti? Bagaimana pula kelak nasibku setelah tamat kuliah? Bisakah aku merasakan indahnya dunia kerja yang sering kali hadir dalam mimpiku? Bagaimana dengan menikah? Adakah laki-laki tulus yang mau dan bersedia menerimaku dengan segala kekurangan yang kumiliki ini? Karena selama ini, teman-teman cowokku pun ternyata masih sering memandangku sebelah mata.
Ya, itu semua rahasia Allah dan aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Bagiku, tugas kita sebagai hamba-Nya hanyalah berusaha dan berdoa serta memasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Karena kuyakin, Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya, termasuk juga diriku. (Alin)
(Seperti yang dituturkan Ragil kepada Alin)
***
NB: Ragil itu bukan nama sebenarnya.
Ada pelajaran berharga yang aku dapatkan dari kisah ini. Aku jadi ingat kata-kata yang pernah diucapkan oleh my boss (baca: Pemred) saat masih magang di sebuah koran. Padahal suer, dulu aku nggak terlalu ambil pusing dengan kata-kata si bos itu. Tapi kini...
"Sebenarnya yang memberi warna pada negara ini bukanlah presiden, menteri ataupun politikus. Tapi, kita (wartawan, red). Dengan tulisan yang kita buat, akan banyak mendatangkan opini publik." ^_^
