![]() |
| Sumber Gambar: http://www.solopos.com/2014/03/12/kisah-inspiratif-ayah-di-china-gendong-anak-cacat-14-km-ke-sekolah-495497 |
“Bang, aku haus sekali....”
Itulah keluhan Didi yang kerapkali kudengar saat kami dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dan bila mendengar keluhannya itu, segera saja aku mencari pohon rindang di dalam kawasan hutan pinus ini. Setelah mendudukkan Didi di bawah pohon, aku pun mencari botol minuman yang ada di dalam tas. Kemudian menyodorkannya ke Didi.
“Minumlah, Dek. Sudah tuh kita harus meneruskan perjalanan kita yang masih panjang ini,” ujarku seraya menunjuk sebuah bukit yang menjulang di hadapan kami.
Didi mengangguk dan segera meneguk air dalam botol minumam. Glek glek glek. Segar nian tampaknya. Didi kemudian menatapku.
“Abang dak minum? Abang tentu lelah pulo menggendongku dari sekolah tadi.” Diserahkannya kembali botol minuman itu padaku. Tapi aku malah menggeleng.
“Usah risaukan Abang, Dek. Tubuhku ini masih kuat mendukungmu tiap hari pulang-pergi sekolah.”
Kulihat setetes cairan perlahan turun ke pipi tirusnya. “Maafkan aku, yo, Bang!”
***
Didi, adik bungsuku itu memang terlahir tidak sempurna. Sejak balita, ia telah mengidap polio sehingga menyebabkan kedua kakinya lumpuh layuh. Sehari-hari Didi mengandalkan orang lain untuk mengurusi semua kebutuhannya, termasuk pergi ke sekolah. Dan karena sekolahku tak jauh dari sekolahnya, maka akulah yang diberi tanggung jawab oleh Emak untuk antar-jemput Didi ke sekolah.
“Dek, siang ini Abang dak bisa jemput kau ke sekolah. Abang nak ada ulangan remidi Biologi, karena kemarin nilai-nilai kami jelek semua.” Sangat kusesali memang, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
“Tak apalah, Bang. Aku akan menunggu sampai Abang menjemputku. Usah cemaskan aku, karena sambil menunggu Abang, aku bisa membuat pe-er di sekolah.” Sebuah senyum tersungging di bibir tipisnya.
Oh, Didi. Betapa aku salut padamu.
Usai ulangan remidi, segera aku berlari menuju sekolah Didi.
“Oh, syukurlah. Kau masih ada di sekolah. Abang mencemaskanmu.” Kubantu Didi membereskan peralatan belajarnya dan segera berlalu meninggalkan sekolah.
“Oh, syukurlah. Kau masih ada di sekolah. Abang mencemaskanmu.” Kubantu Didi membereskan peralatan belajarnya dan segera berlalu meninggalkan sekolah.
***
Suatu sore di dipan teras rumahku. Tempat biasa Didi menghabiskan waktunya bila tengah berada di rumah.
“Kau sedang mengerjakan pe-er, Dek?” sapaku seraya meletakkan dua cangkir teh manis hangat di atas dipan. Tapi Didi hanya menggeleng.
“Aku sedang menggambar tentang kito, Bang. Waktu yang kito habiskan bersama di hutan pinus itu.” Diperlihatkannya hasil gambarnya. Aku tertegun.
“Bagaimana, Bang? Bagus idak gambarku?” Didi memintaku memberi penilaian. Tapi entah kenapa hatiku malah perih melihat gambar Didi.
“Bang, terima kasih banyak atas kesabaran kau selama ini. Menggendongku ke manapun aku pergi. Melayaniku tanpa lelah. Mengajariku belajar. Ah, ternyata aku ini suko kali buat Abang repot.”
“Kato siapo?” sangkalku tiba-tiba. “Abang idak pernah merasa terbebani olehmu. Abang malah senang dapat membantumu. Kau itu adek Abang. Wajarlah bilo aku membantumu.”
“Tapi aku selalu sajo merepotkan Abang, Emak dan Abak. Aku dak bisa mengerjakan segalanyo sendiri. Selalu sajo minta bantuan dari kalian. Aku merasa dak berguna jadi manusia. Aku... aku...” Dengan napas terengah-engah, Didi meluapkan semua emosi yang dipendamnya selama ini. Air mata turut meyertai luapan emosinya. Dan tiba-tiba saja asma yang telah dideritanya dua tahun ini kambuh.
“Didi, kau itu…. Sebentar, Abang ambilkan dulu obat asmamu.” Dengan panik aku bergegas masuk ke dalam rumah, tapi tangan lemah Didi menahanku.
“Tak usah, Bang. Aku baik-baik sajo,” ujarnya seraya memintaku duduk kembali bersamanya. “Bang, andai aku pergi nanti, tolong kau simpan gambar yang kubuat tadi, yo. Anggap tu kenang-kenangan terakhir bersamaku. Bila Abang rindu aku, rindu kebersamaan kito di hutan pinus itu, tengoklah gambar itu. Aku... aku sayang Abang, Emak dan Abak. Sampaikan pula maafku pada beliau, yo, Bang. Waktuku dak lamo, Bang. Aku... aku nak pergi dan jangan pernah tangisi aku.”
Perlahan tubuh mungil itu pun makin melemah. Sambil membimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat, Didi mungilku itu akhirnya pergi untuk selama-lamanya.
***
Karawang, 15 April 2012
Mengalami proses editan: Karawang, 12 Maret 2017
Terinspirasi dari sebuah tayangan di televisi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar