![]() |
| Sumber Gambar: google.com with modified |
Sebelumnya aku mau mengucapkan "Gong Xi Fa Cai" buat seluruh teman-teman yang merayakannya. Semoga di tahun ayam api ini lebih banyak limpahan berkah untuk kita semua dan diharapkan kerukunan dan toleransi makin terbina buat bangsaku tercinta, Indonesia. Aamiin.
Bicara tentang imlek, tentunya pasti selalu ada yang namanya pertunjukan Barongsai kan? Berdasarkan kepercayaan masyarakat Tionghoa, barongsai yang dilambangkan dengan singa adalah simbol dari keberanian dan dipercaya dapat mengusir aura negatif dan membawa harapan kebaikan di tahun baru ini. Kalau zaman sekarang pertunjukan barongsai itu sudah bebas berlenggak-lenggok kemanapun, tapi jangan harap itu terjadi di tahun 90-an.
Pada zaman tahun 90-an, jangankan barongsai, segala macam simbol-simbol yang berbau etnis Tionghoa sudah pasti langsung dibredel. Jadi, nggak ada tuh yang namanya perayaan imlek secara besar-besaran, apalagi sampai dijadikan hari libur nasional. Mereka--para etnis Tionghoa--bila ingin merayakan Happy Lunar New Year (imlek) harus diam-diam, sembunyi-sembunyi, tertutup dan jangan sampai ketahuan oleh pemerintahan rezim saat itu. Karena bila tidak, maka jeruji besi lah yang menjadi hadiahnya.
Hm... bicara imlek dan barongsai, aku jadi ingat kenangan saat dulu masih duduk di bangku SMA. Saat itu kebetulan pas imlek. Sepulang sekolah, aku dan D'Belle Gank--empat cewek freak yang hobi banget baca komik--mendatangi tempat penyewaan buku di daerah 'kampung cina'. Sampai sana sama Cici penjaganya dikasih kue keranjang dan sebuah jeruk--mungkin karena kami pelanggan setia di sana. Hahaha. :P
Dan ketika kami mau pulang, si Cici ngomong gini, "Mau liat barongsai nggak?"
Eh? Kami berempat langsung saling pandang. Secara memang belum pernah lihat yang namanya pertunjukan barongsai itu kayak apa. Akhirnya karena penasaran, kami pun pergi ke klenteng dekat situ yang kebetulan sedang mengadakan pertunjukan barongsai--secara diam-diam, tentu saja.
Sesampainya kami di sana, ajegile, penontonnya bejibun bo. Kami saja sampai berdesakan. Tapi syukurlah masih bisa melihat pertunjukan barongsai, meskipun dari jarak yang lumayan jauh. Melihat aksi dua barongsai yang berlenggak-lenggok, berkeliling, memainkan mata genitnya, menjulurkan lidah, bahkan sampai berdiri tegak, sungguh benar-benar membuat kami kagum. Beberapa orang pun kulihat banyak yang melemparkan uang koin dan kertas. Dan di akhir pertunjukan, tepukan aplaus menggema sangat meriah. Pokoknya benar-benar puas dan menghibur deh.
Tapi malangnya, gara-gara nonton barongsai itu, sampai rumah aku harus siap menerima omelan ibu karena telat pulang dari sekolah. Hehehe... :D
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar