![]() |
| Sumber Gambar: textgram with modified |
Tadi pagi saat tengah buka Facebook (FB) via handphone, seperti biasa, selalu ada notif "Kenangan" dari FB. Umumnya, "Kenangan" itu berisi tulisan-tulisan maupun foto--bahkan juga video--yang pernah kita unggah beberapa tahun silam. Maksud FB menanyakan fitur itu mungkin sebagai 'reminder atau pengingat' tentang hal-hal apa saja yang pernah kita share di sana. Di mana kenangan tsb kadang bisa membuat kita tertawa, tercengang, merenung, kaget, kangen, bahkan juga bisa sedih.
Pun termasuk saat membaca ulang sebuah status tertanggal 27-1-2013. Dalam status itu tertulis kutipan yang pernah disampaikan oleh seorang penulis komedi senior (temannya Lupus dalam Serial Lupus), Boim Lebon, dalam sebuah acara "Studium Generale Pramudya Angkatan 3 FLP Karawang". Dimana dalam acara tersebut aku bertindak sebagai salah satu panitianya. Hehehe.
Berbagi ilmu kepenulisan--terutama fiksi--dengan penulis yang telah lebih dulu terjun langsung di dalamnya memang selalu menarik perhatianku. Kalau boleh jujur, keinginan menjadi seorang penulis fiksi itu telah terpatri di dalam hatiku sejak aku kuliah dan mulai suka membaca aneka novel--umumnya yang kubaca sih novel-novel romance. Tapi sayang hingga saat ini keinginan tsb masih belum terwujud secara konkret--dalam artian belum ada satu buku solo pun yang berhasil kutulis dan terpublish. Hiks.
Menelaah kembali soal kutipan yang diungkapkan Mas Boim Lebon (akun IG beliau: @boim.lebon17) di atas, sepertinya hal itu benar banget. Pasalnya, aku tuh paling demen menulis cerpen yang berdasarkan kisah nyata (kalau mau baca cerpen-cerpenku silakan buka: www.kompasiana.com/alin_you). Kisah nyata itu bisa datang dari status yang ditulis teman di medsos (melihat), curhatan teman secara langsung (mendengar), atau bisa juga dengan mengamati kejadian di sekitar (merasakan). Intinya buat penulis mah panca indera itu kudu diasah biar lebih peka, sehingga bisa menghasilkan tulisan yang memiliki 'jiwa'.
Bicara soal mendramatisir cerita yang berasal kisah nyata... heuheu, kayaknya itu gue banget deh. Jadi maksudnya, cerpen yang kutulis itu tidak murni 100% plek mengambil dari kisah nyata. Pasti ada fiksi-fiksinya. Pasti ada yang terbentuk dari hasil imajinasiku. Pokoknya persentasenya itu sekitar 60:40 deh, dimana kisah nyatanya tetap lebih unggul dibandingkan fiksinya.
So, kalau ditanya kenapa aku lebih senang menulis cerita yang berasal dari kisah nyata daripada hanya mengandalkan imajinasi semata, maka jawabannya adalah... ya, karena cerita yang berasal kisah nyata itu lebih hidup, lebih ada rohnya, dibandingkan yang murni dari hasil imajinasi semata. Trus, apakah orang yang kisahnya kujadikan cerita fiksi itu tahu? Jawabannya, ada yang tahu, ada yang tidak. Tapi alhamdulillah sejauh ini belum ada yang komplain, apalagi marah. Ya, semoga saja tetap seperti itu. Karena sejatinya, yang namanya cerita fiksi itu pasti pernah terjadi di dunia nyata.
***
Pertama kali tayang di akun Instagram milik penulis sendiri: @alin_you tertanggal 27 Januari 2017. Setelah mengalami pengeditan, barulah tayang di blog ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar