"Dinda, maafkan aku yang terpaksa harus memilih. Bukan karena aku tak lagi mencintaimu, tapi karena aku lebih menyayangi ibuku."
Itulah kata-kata terakhir yang kauucapkan di warung lesehan yang terdapat di kawasan Tanggul Bendungan Enam. Tempat itu merupakan tempat kita biasa menghabiskan senja bersama sambil menikmati seporsi sate Maranggi lengkap dengan lontong dan acarnya serta segelas es teh manis. Itu menu favorit kita, Kanda. Menu yang selalu kita pesan bila berkunjung ke Tanggul Bendungan Enam.
Sesekali mata kita pun memandangi aliran air irigasi yang terbentang indah di hadapan kita. Aliran irigasi yang tenang itu sering kali dijadikan tempat penyeberangan dengan menggunakan rakit bambu yang berjalan dengan perantara seutas tali sebagai pengganti dayungnya.
Namun pemandangan indah itu seketika rusak, manakala kata-kata menyakitkan harus termuntahkan dari bibir tipismu senja itu.
Oh, tidak! Perih nian hati ini, Kanda! Sungguh! Apalagi saat telingaku harus menangkap kata-katamu itu. Setelah dua tahun kebersamaan kita, Kanda? Setelah aku yakin engkaulah lelaki yang tepat untuk menjadi imam dalam keluarga kecil kita kelak? Setelah... setelah.... Ah, air mataku merebak lagi.
Suasana di Tanggul Bendungan Enam senja itu benar-benar membuatku pedih. Aliran irigasi yang biasanya tenang terpampang luas di hadapanku kini seolah beriak, mengikuti suara hatiku. Kupandangi dirimu yang hanya mampu menghembuskan napas berkali-kali setelah kata-kata meyakitkan itu keluar dari bibirmu. Seakan beban yang selama ini menghimpitmu lepas sudah. Tapi, benarkah itu, Kanda?
Lalu, bagaimana dengan aku? Pernahkah kau berpikir bagaimana rasanya hatiku saat jalinan yang telah terbina dua tahun itu harus berakhir seperti ini? Tidak tahukah kau, Kanda? Betapa aku selalu menganggapmu sosok yang sempurna. Hidupku terasa sempurna bersamamu. Hidupku selalu dipenuhi warna pelangi bila aku berada di dekatmu. Namun kini, mengapa engkau tega meninggalkanku, wahai Kanda? Hanya karena ibumu?
Ya, ibumu. Mengapa beliau tak pernah bisa merestui hubungan kita? Mengapa beliau selalu memandangku sebelah mata? Apa karena aku ini bukan dari kalangan ningrat? Bukan anak orang kaya sepertimu? Ah, mengapa keturunan dan harta menjadi penghalang hubungan kita, Kanda?
"Dinda, mengertilah. Tak ada yang salah dari hubungan kita, karena sejatinya cinta itu takkan pernah salah. Andai kau yang berada di posisiku kini, mungkin engkau pun akan melakukan hal yang sama. Tegakah kau mendurhakai ibumu sendiri? Ibu yang telah mengandung dan membesarkanmu? Maafkan aku, Dinda. Aku harus pergi. Aku hanya berharap kelak kau akan mendapatkan lelaki sempurna seperti yang selama ini kau idam-idamkan."
Kanda, tidaaak...! Takkan ada lelaki lain yang dapat menggantikan posisimu di hatiku. Engkau tetaplah sosok sempurna yang telah berhasil menghipnotisku hingga aku takkan mampu berpaling ke hati yang lain. Kanda, kau berhasil membuatku untuk selalu memujamu. Kanda, kau... kau sungguh kejam!
Senjaku kelabu
Saat kau datang dengan sebuah keputusan
Terpekur diri menatap langit
: tak mungkin, sungguh itu mustahil terjadi!
Jeritan hati inginkan kejelasan
Namun takdirNya telah berkata
***
Karawang, 3 Desember 2011
Teruntuk : Seseorang di sana
Catatan :
Gile. Ternyata aku pernah bikin cerpen model begini? Hehehe...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar