Happy Birthday, Lily!
Rasanya, aku takkan pernah bisa melupakan hari ini. Hari spesial dimana engkau dilahirkan. Hari yang sering kali kaukeluhkan karena hanya hadir setiap empat tahun sekali.
"Iri, deh, gue ama lu, Rose," keluhmu saat kita tengah merayakan ulang tahunku di sebuah kafe di mal.
Aku yang mendengarkan keluhanmu hanya bisa mengerutkan dahi, bingung. "Iri kenapa emangnya?"
"Ya, karena bisa ngerayain ultah setiap tahun. Nggak kayak gue, mesti menunggu empat tahun sekali cuma buat bisa ngerayain ultah pas di hari gue dilahirkan."
Hahaha... rasanya aku ingin tertawa ngakak saat itu. Tapi melihat raut sedihmu, segera saja kuurungkan niat itu. "Hei, ultah lu itu unik kali, Ly. Dan harusnya lu, tuh, bangga. Karena nggak setiap orang dilahirkan pada tanggal seunik itu."
Dan kau pun hanya tersenyum menanggapi penjelasanku.
***
Empat tahun silam....
"Happy Birthday, Lily!" ucapku seraya membuka pintu kamar kost-mu yang tidak terkunci. Di tanganku telah ada sebuah kue tart bermotif bunga 'white lily' sesuai dengan namamu dan sepasang lilin berangka 20 yang juga sesuai dengan usiamu saat ini.
Kau yang masih mengantuk dan mengenakan piyama tampak terkejut mendapatiku telah berada di kamarmu.
"Rose.... Lu masuk dari mana?"
"Heu, gue terbang tadi, Ly," kelakarku yang langsung disambut lemparan bantal olehmu. "Eits, hati-hati atuh, Non. Entar kuenya hancur gimana?" elakku yang berhasil menyelamatkan kue tart yang masih berada di tanganku. Dan kau hanya cemberut menanggapi.
"Ya udah, buruan tiup lilinnya nih. Trus, make a wish," ujarku sambil menyodorkan kue tart bermotif bunga 'white lily' itu ke arah tanganmu.
Dengan mata terpejam, engkau pun merapalkan harapan diiringi isakan kecil. Setelah itu, sepasang lilin yang berada di atas kue tart itu pun engkau tiup dengan sekali hembusan.
"Gimana rasanya berada di usia kepala dua?" tanyaku seraya memeluk tubuh mungilmu yang kian ringkih saja.
Engkau hanya memandangiku dengan tatapan sayu. "Ah, lu pasti tahulah apa yang gue ucapkan saat 'make a wish' tadi."
Dan setelah mengucapkan hal itu, engkau pun tersenyum manis. Seolah tak ingin lagi mengingat pada kanker ganas yang tengah menggerogoti tubuhmu saat ini.
***
Karawang, 01032016
Diikutsertakan dalam event "Fiksi Prompt" di Grup Fiksiana Community.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar